Tampilkan postingan dengan label apresiasi puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apresiasi puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

MK APRESIASI PUISI (PENDEKATAN SEMIOTIIK)



Pendekatan Semiotik
 Zoest, 1993:18
      Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain

Pradopo (1994) 
      studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvesi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur-struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antarunsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.

Culler (1981).
mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sajak, maka menganalisis sastra itu tidak lain adalah memburu tanda-tanda (pursuit of sign).  
Elemen-elemen Dasar Semiotik
Komponen Tanda
tanda sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang –seperti halnya selembar kertas-yaitu bidang penanda (signifier) nntuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ’ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’. 




tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol/lambang dan makna.
a. Lambang/Simbol
Lambang bagi Peirce merupakan bagian dari tanda. Setiap lambang adalah tanda dan tidak setiap tanda itu sebagai lambang. Adakalanya tanda dapat menjadi lambang secara keseluruhan yaitu dalam bahasa. Sebagai sistem tanda yang arbitrer, setiap tanda dalam bahasa merupakan lambang. Puisi sebagai karya dengan medium bahasa di dalamnya terdapat lambang yang berupa bunyi, baik vokal maupun konsonan yang menyiratkan makna tertentu.
1)      Tingkatan Tanda
Roland Barthes
Denotasi
·         denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna eksplisit, langsung dan pasti.
·         makna pada apa yang tampak. Misalnya foto wajah Barnadi berarti wajah Barnadi yang sesungguhnya.
·         denotasi adalah tanda yang penandanya mempunyai tingkat konvensi atau kesepakatan yang tinggi.
Konotasi
·         Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, yang di dalamnya beroperasi makna yang eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti (artinya terbuka dalam berbagai kemungkinan).
·         Konotasi dapat menghasilkan makna lapis kedua yang bersifat implisit, tersembunyi.
2)      Relasi Antartanda
Selain kombinasi tanda, analisis semiotika juga beruapaya mengungkap interaksi di antara tanda-tanda.
Metafora
·         sebuah model interaksi tanda, yang di dalamnya sebuah tanda dari sebuah sistem yang lainnya. Misalnya penggunaan metafora ‘kepala batu’ untuk menjelaskan seseorang yang tidak mau diubah pikirannya.
Metonimi
·         interaksi tanda, yang di dalamnya sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda lain, yang di dalamnya terdapat hubungan bagian (part) dengan keseluruhan (whole). Misalnya, tanda botol (bagian) untuk mewakili ‘pemabuk’ (total). Atau, tanda mahkota untuk mewakili konsep tentang ‘kerajaan’.
Relasi metafora dan metonimi ini banyak digunakan di dalam puisi sebagai dua majas (figure of speech). Untuk menjelaskan makna-makna secara tidak langsung.

2.3  Unsur-unsur Puisi dalam Kajian Semiotik

1.      Diksi
diksi dapat diartikan berupa kecermatan pemilihan dan penggunaan kata-kata yang bertujuan untuk memperoleh efek ucapan atau tulisan yang disampaikan. 
2.      Makna Denotasi dan Konotasi
·         Makna denotasi adalah yang merujuk kepada makna sebenarnya (makna kamus)
·         Makna konotasi adalah arti tambahan yang ditimbulkan asosiasi-asosiasi yang keluardari denotasinya.
3.      Citraan
Citraan (imagery) merupakan sesuatu yang dirasakan atau dialami secara imajinatif. Dengan ketepatan pilihan kata dalam sebuah karya sastra (puisi) membantu daya bayang untuk menjelmakan gambaran yang nyata.
4.      Bahasa Kiasan
Adanya bahasa kias dapat mengefektikan penyampaian maksud. Dengan bahasa kias, imaji tambahan akan semakin mudah ditemukan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan puisi lebih mudah dipahami dan nikmat untuk ditelaah.

Pengkajian puisi Hujan Bulan Juni
Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu                      

1989
Analisis Struktur Lahir Puisi Hujan Bulan Juni
1.     Diksi
Diksi yang terdapat pada puisi Hujan Bulan Juni ini menggunakan diksi konotatif, karena didominasi oleh kata-kata yang tidak menggunakan makna sebenarnya. Terdapat dalam kutipan berikut ini.
“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni” (bait ke-1)


2.      Gaya Bahasa
Di dalam puisi ini diperkuat dengan majas personifikasi. Dapat terlihat pada kata hujan yang seolah-olah memiliki rasa seperti manusia yaitu rindu, bijak, arif, tabah, dan perilakunya (dirahasiakannya, dihapusnya, dibiarkan).
3.      Bunyi
         Rima: Bebas
4.      Tipografi
Tipografi pada puisi ini terdiri dari tiga bait dan tiap bait terdiri  dari empat baris. Dalam puisinya sendiri ditulis dengan menggunakan rata kiri. 

Analisis Struktur Batin Puisi Hujan Bulan Juni
1.      Tema
Penantian
2.      Nada dan Suasana
Romantik, menggambarkan suasana harmonis.
3.      Perasaan
Memunculkan rasa tabah, bijak, dan arif.
4.      Amanat/Itikad
Tidak ada yang tidak mungkin jika kita ingin berusaha. Sesungguhnya kekuatan cinta itu nyata.
5.      Relevansi dengan kehidupan
Menggambarkan bahwa dalam mengharapkan sesuatu di hidup ini tidak selalu mudah didapat. Perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh. Jika kita mau berusaha pasti akan ada hasil yang baik.

Analisis puisi Hujan Bulan Juni dilakukan tiap-tiap kalimat karena tanda-tanda yang terdapat dalam puisi ini berbentuk kalimat, bisa dibilang bukan merupakan satu kata saja. Maka analisisnya menurut kalimat-kalimat berikut ini.
1.      Hujan Bulan Juni
2.      Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
3.      Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
4.      Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
5.      Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
6.      Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
7.      Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Pembacaan heuristik puisi Hujan Bulan Juni.
1.      Hujan bulan juni.
Dari judul puisi ini sendiri Hujan Bulan Juni memiliki arti hujan yang terjadi di bulan juni.
2.      Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni.
Dalam KBBI kata tabah memiliki arti tetap dan kuat hati. Jadi kalimat ini mengartikan bahwa hujan di bulan juni memiliki sifat yang tetap dan kuat hati. Tidak ada yang melebihi ketabahan hujan di bulan juni.
3.      Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
Dalam KBBI kata rahasia memiliki arti sesuatu yg sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Kalimat ini mengartikan bahwa hujan di bulan juni menyembunyikan rindunya kepada pohon yang berbunga.
4.      Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni.
Dalam KBBI kata bijak adalah  selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir. Dalam kalimat ini mengartikan hujan di bulan juni menggunakan akal budinya, pandai dan mahir. Tidak ada yang lebih bijak dari hujan di bulan juni.
5.      Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.
Dalam KBBI kata hapus adalah tidak terdapat atau tidak terlihat lagi; hilang. Kalimat ini berarti, hujan di bulan juni menghapus atau menghilangkan jejak-jejak kakinya yang ragu ragu.
6.      Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni.
Dalam KBBI kata arif adalah bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu. Kalimat ini berarti, hujan bulan juni itu bijaksana, cerdik, berilmu dan pandai. Dan tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni.


7.      Dibiarkannya tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Kalimat ini menerangkan bahwa hujan bulan juni membiarkan tak mengucapkan apa-apa air-air hujannya di serap oleh akar pohon yang berbunga.

Pembacaan hermeneutik puisi Hujan Bulan Juni.
            Kita dapat memaknai puisi Hujan Bulan Juni ini dengan melihat judul yang dibuat oleh penyairnya, yaitu Hujan Bulan Juni. Seperti yang telah kita ketahui bahwa bulan juni merupakan musim kemarau yang jarang sekali hujan datang. Jadi hujan bulan juni dapat disimbolkan sebagai penantian. Dalam puisi ini menggambarkan seseorang yang tengah menanti seseorang yang ia kasihi. Untuk memaknai puisi Hujan Bulan Juni secara kesuluruhan dapat dilihat pembacaan hermeneutik dari setiap baitnya.
Bait pertama
Bait pertama menggambarkan seseorang yang dengan tabahnya menanti seseorang yang ia cintai. Ia memuji penantianya tidak ada yang lebih tabah dari penantiannya. Di bait pertama ini juga menggambarkan bahwa ia menyembunyikan rasa rindunya kepada seseorang yang indah yang ia cintai. Pohon berbunga itu diartikan sebagai seseorang yang indah yang dinanti.
Bait kedua
Bait ini menggambarkan penantian seseorang tersebut sangat bijak dan tak ada yang melebihi kebijakan penantiannya. Ia pun menghapus segala keraguannya dalam menanti dan mencintai seseorang tersebut.
Bait ketiga
Bait ketiga menggambarkan pemujian kembali terhadap penantiannya. Ia mengatakan kembali bahwa tidak ada yang lebih arif dari panantiannya. Di bait ketiga pula digambarkan bahwa pada akhirnya penantiannya berbuah hasil manis. Cintanya diterima oleh seseorang yang ia cintainya dapat dilihat dari kalimat diserap akar pohon bunga itu. Dan ia membiarkan tidak terucap segala apa yang ia rasakan selama penantian.


Simpulan
            Puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono menggambarkan tentang penantian seseorang kepada seseorang yang dinantinya. Dengan sangat tabah, bijak, dan arif ia menanti. Dengan merahasiakan segala rindunya, menghapus segala keraguannya dalam menanti. Akhirnya penantiannya berbuah manis. Ia mendapatkan seseorang yang dinantinya tersebut. Karena begitu tulusnya perasaan seseorang tersebut ia membiarkan tak terucapkan segala apa yang ia rasa selama menanti. Puisi ini sangat memberikan kita pelajaran betapa tidak ada yang tidak mungkin jika kita ingin berusaha. Sesungguhnya kekuatan cinta itu nyata.

Rabu, 28 September 2016

ketidaklangsungan ekspresi puisi



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bahasa adalah dasar atau (symbol) yang sudah mempunyai arti dan mempunyai konvensi sendiri karena bahasa merupakan lembaga kemasyarakatan. Dengan demikian, sastra terikat arti bahasa dan konvensi bahasa. Meskipun demikian, bahasa itu disesuaikan dengan konvensi sastra sebab sastra juga merupakan lembaga masyarakat yang  mempunyai konvensi sendiri. Dipandang dari konvensi bahasa, konvensi sastra itu merupakan konvensi tambahan, yaitu konvensi tambahan disamping dan diluar konvensi bahasa. Jadi dalam sastra ada konvensi bahasa yang merupakan konvensi di luar sastra bahasa ada konvensi sastra sendiri yang disebut konvensi tambahan oleh Preminger (1974 :981). Konvensi tambahan dalam sastra diantaranya konvensi bahasa kiasan, persajakan, pembagian bait, persajakan, bahkan juga enjambement (perloncatan baris) dan tipografi ( susunan tulisan). 
Diantara konvensi-konvensi tambahan itu adalah konvensi adalah konvensi bahasa kiasan (symbolic extrapolation) (Preminger,1974 :981) merupakan konvensi tambahan puisi itu menyatakan pengertian-pengertian atau hal-hal secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu hal dan berarti yang lain. Dengan demikian  itu, bahasa puisi nemberikan makna lain daripada bahasa biasa.Ketidaklangsungan pernyataan  puisi itu menurut Riffaterre (1978:2) disebabkan oleh tiga hal: penggantian arti (displacing), penyimpangan arti (distorting), dan penciptaan arti (creating of meaning)






1.2  Rumusan masalah
Oleh sebab itu, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai:
1.      Bagaimanakah penggantian arti dalam puisi?
2.      Bagaimanakah penyimpangan arti dalam puisi?
3.      Bagaimana penciptaan arti dalam puisi?

1.3  Tujuan
Dalam penulisan makalah ini bertujuan agar pembaca mampu  mengetahui :
1.      Penggantian arti dalam puisi
2.      Penyimpangan arti dalam puisi
3.      Penciptaan arti dalam puisi















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi
Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 2009: 210) ketidaklangsungan pernyataan puisi itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu: penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning).
2.1.1                    Penggantian Arti
Pada umunya kata-kata kiasan mengganti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metomini Riffaterre (dalam Pradopo, 2009: 212). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain (tidak menurut arti yang sesungguhnya). Misalnya dalam sajak Chairil ini.

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mangalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mangalir luka
ntara kita mati datang tidak membela…..
Dihitam matamu kembang mawar dan melati: mawar dan melati adalah metafora dalam baris ini, berarti yang lain: sesuatu yang indah, atau cinta yang murni. Jadi, dalam mata kekasih si aku itu tampak sesuatu (cinta) yang indah atau cinta yang menggairahkan dan murni seperti keindahan bunga mawar (yang merah) dan melati (putih) yang mekar. Metafora itu bahasa kiasan yang menyatakan sesuatu seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama, Altenbernd (dalam Pradopo, 2009: 212). Secara umum dalam pembicaraan puisi, bahasa kiasan seperti perbandingan, personifikasi, sinekdoki, dan metonimi itu bisa disebut saja dengan metafora meskipun sesungguhnya metafora itu berbeda dengan kiasan yang lain, mempunyai sifat sendiri. Metafora itu melhat sesuatu dengan perantaraan hal atau benda lain.
Dalam bait kedua baris pertama “sepi menyanyi” adalah personafikasi, dalam keadaan yang mesra itu tiba-tiba terasa sepi: “sepilah yang menyanyi” karena mereka berdua tidak berkata-kata, suasana begitu khusyuk seperti waktu malam untuk mendoa tiba.Maka dalam keadaan diam itu maka jiwa si akulah yang beriak seperti air kolam kena angin. Dalam baris ke-3 dan  ke- 4 “dan dalam dadaku memerdu lagu / menarik menari seluruh aku”. Kata lagu dan menari mengiaskan kegembiraan si aku karena bersanding (melihat) kekasihnya yang menggairahkan,yang bersandar tari warna pelangi,yaitu dalam keadaan yang sangat menyenangkan.
Dalam bait ketiga baris pertama :” Hidup dari hidupku, pintu terbuka,”Kalau kekasih masih mau menengadah kepada si aku berarti masih cinta padanya.” Selama kau darah mengalir dari luka”ini berarti selama kau masih hidup, masih dapat merasa sakit dan samapi kematian datang antara si aku dan kekasihnya tidak membelah : tidak bercerai. Semuanya itu merupakan sajak putih “, yaitu pernyataan hati si penyair (yaitu sajak yang diucapkan dengan tulus ikhlas : dengan “putih”


2.1.2        Penyimpangan Arti

Menurut Riffaterre (dalam Pradopo, 209: 213) penyimpangan terjadi bila dalam sajak ada abiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense.

2.1.2.1  Ambiguitas
Dalam puisi kata-kata, frase, dan kalimat sering mempunyai arti ganda, menimbulkan banyak tafsir atau ambigu. Sebuah contoh sajak Sutardji CalzoumBachri.

TAPI
aku bawakan bunga padamu
                                                              tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
                                                              tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
                                                  tapi kau bilang Cuma
aku bawakan mimpiku padamu
                                                  tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
                                                  tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
                                                  tapi kau bilang hamper
ku bawakan arwahku padamu
                                                  tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
                                                  wah!

Dengan ambiguitas seperti itu puisi memberI kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya. Dengan demikian, setiap kali sajak ini dibaca selalu memberikan arti baru. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Julia Kristeva (tokoh semiotic terkenal) (Preminger dkk, 1974: 982) bahwa dalam puisi arti tidak terletak “di balik” penanda (tanda bahasa: kata), seperti sesuatu yang “dipikirkan” oleh pengarang, melainkan tanda itu (kata-kata itu) menjanjikan sebuah arti (arti-arti) yang harus diusahakan diproduksi oleh pembaca.

2.1.2.2  Kontradiksi
Dalam sajak modern banyak ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud secara berlawanan atau kebalikan. Ironi ini biasanya untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan. Ironi ini menarik perhatian dengan cara membuat pembaca berpikir. Sering juga membuat orang tersenyum atau membuat orang berbelaskasihan terhadap sesuatu yang menyedihkan. Dalam puisi Indonesia, penyair Subagio Sastrowardojo sering menulis ironi, misalnya yang terkenal “Afrika Selatan”, yang lain, “Bulan Ruwah”, “Katechisasi”, “Nyayian Ladang”.
NYAYIAN LADANG
Kau akan cukup punya istirah
Di hari siang. Setelah selesai mengerjakan sawah
Pak tani, jangan menangis

Kau akan cukup punya sandang
Buat nikah, jangan menangis.

Kau akan cukup punya pangan
Buat si ujang, setelah selesai pergi kondangan.
Pak tani, jangan menangis.
Kau akan cukup punya lading
Buat sawah. Setelah selesai mendirikan kandang.
Pak tani, jangan menangis.(Daerah Perbatasan, 1970: 19).

Dalam sajak tersebut si penyair seolah-olah menghibur pak tani, yang tampaknya serba kecukupan, tetapi sebenarnya hidupnya sangat sederhana daN sengsara. Seolah segala-galanya sudah cukup bagi pak tani: akan cukup istirah, cukup punya kerja di sawah, cukup sandang, punya sandang setelah lunas sandang, cukup punya pangan sesudah kondangan (kenduri)!, cukup punya ladang buat sawah.
Kehidupan petani sesungguhnya sangat sederhana, dan sengsara, semua serba: akan! Pak tani jangan menangis−itu sesungguhnya malah: Pak tani harus menangis dalam keadaan yang menderita itu, dalam keadaan melarat, hidup penuh hutang, hanya punya makan pun sehabis pergi kondangan, dan sawahnya hanya lading, dalam arti tak cukup baik untuk menanam padi.

2.1.2.3  Nonsense
Nonsense merupakan bentuk kata-kata yang secara linguistic tidak mempunyai art sebab tidak terdapat dalam kosakata, misalnya penggabungan dua kata atau lebih (sepisaupi, sepisaupa) menjadi bentuk baru, pengulangan suku kata dalam satu kata: tekekehkekeh-kehkehkeh. Nonsense ini menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi,
menimbulkan suasana aneh, suasana gaib, ataupun suasana lucu. Misalnya sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri anyak mengandung nonsense demikian itu. Misalnya dalam sajak “pot” (1981: 30): potapa potitu potkaukah potaku?, dalam “Herman”: tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisa…., dalam “Kakekkakek & Bocahbocah”: dan bocah-bocah tertawa terkekehkekehkehkehkeh. Dalam sajak “Sepisaupi” (1981: 87) sebagai berikut.
SEPISAUPI
sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya kedalam nyanyian

Sutardji menggabungkan kata sepi dan pisau dan sapa menjadi sepisau, sepisaupi, dan sepisaupa, sepisapanya, maka sapanya dalam sepi itu menusuk seperti pisau. Di situ arti sepi dan pisau digabungkan hingga terjadi makna sepi seperti pisau yang menusuk. Juga, sepi digabungkan dengan pikul, menjdi sepikul dosa: rasanya dosa itu betapa berat dan sepi mencekam. Dalam sajak terkandung makna: dasa itu menimbulkan derita seperti tusukan duri dan pisau dan membuat sepi terasing.

2.1.3         Penciptaan Arti
Terjadi penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 2) bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dar hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistic tidak ada artinya, misalnya simitri, rima, enjebement, atau ekuivalensi-ekuivalensi makna (semantik) diantara persamaan-persamaan posisi dalam bait (homologues). Dalam puisi sering terdapat keseimbangan (simitri) berupa persejajaran arti antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait.
Homologues (persamaan posisi) itu misalnya tampa dalam sajak pantun atau yang semacam pantun. Semua tanda di luar kebahasaan itu menciptakan makna di luar arti kebahasaan. Misalnya makna yang mengeras (intensitas arti) dan kejelasan yang diciptakan oleh ulang bunyi dan parlelisme. Misalnya bait sajak Rendra ini.

Elang yang gugur tergeletak
Elang yang tergugur terebah
Satu harapku pada anak
Ingatkan pulang pabila lelah

Dalam bait sajak itu ada persejajaran bentuk menimbulkan persejajaran arti: bahwa bagaimanapun hebatnya elang, sekali-kali ia gugur tergeletak dan terebah, begitu juga si anak akan lelah juga dan ngatlah akan pulang. Di bawah ini sajak Sutardji (1981: 25) yang penuh persejajaran bentuk dan arti. Oleh ulang yang berturut-turut terjadilah orkestrasi (bunyi masak) dan irama. Orkestrasi ini menyebabkan liris dan konsentrasi.









BAB III
PENUTUP
3.1  SIMPULAN
Berdasarkan materi yang sudah diulas pada bab II maka secara garis besar dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1.      Dalam penggantian arti ini suatu kata (kiasan) berarti yang lain (tidak menurut arti yang sesungguhnya).
2.      penyimpangan terjadi bila dalam sajak ada ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense.
3.      bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dar hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistic tidak ada artinya, misalnya simitri, rima, enjebement, atau ekuivalensi-ekuivalensi makna (semantik) diantara persamaan-persamaan posisi dalam bait (homologues).

3.2  Sebaiknya kita memahami tentang Teori dan Apresiasi Puisi, pemahaman bahan ajar ini akan membantu kita dalam menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan pendidikan sehingga akan tercapai hasil belajar yang optimal.









DAFTAR PUSTAKA


Pradopo, Rachmad Djoko.2014.”Pengkajian Puisi”.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press