Rabu, 26 Oktober 2016
Selasa, 18 Oktober 2016
MK APRESIASI PUISI (PENDEKATAN SEMIOTIIK)
Pendekatan
Semiotik
Zoest, 1993:18
Semiotika
adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan
produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang
lain
Pradopo (1994)
studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvesi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur-struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antarunsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.
studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis karya sastra, di sini sajak khususnya, sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvesi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur-struktur sajak atau hubungan dalam (internal) antarunsur-unsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.
Culler (1981).
mencari tanda-tanda yang
memungkinkan timbulnya makna sajak, maka menganalisis sastra itu tidak lain
adalah memburu tanda-tanda (pursuit of sign).
Elemen-elemen Dasar Semiotik
Komponen Tanda
tanda sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang –seperti halnya selembar kertas-yaitu bidang penanda (signifier) nntuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ’ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’.
tanda sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dua bidang –seperti halnya selembar kertas-yaitu bidang penanda (signifier) nntuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ’ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’.
tanda dalam hubungan dengan
acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan
simbol/lambang dan makna.
a. Lambang/Simbol
a. Lambang/Simbol
Lambang bagi Peirce merupakan bagian dari tanda. Setiap
lambang adalah tanda dan tidak setiap tanda itu sebagai lambang. Adakalanya
tanda dapat menjadi lambang secara keseluruhan yaitu dalam bahasa. Sebagai
sistem tanda yang arbitrer, setiap tanda dalam bahasa merupakan lambang. Puisi
sebagai karya dengan medium bahasa di dalamnya terdapat lambang yang berupa
bunyi, baik vokal maupun konsonan yang menyiratkan makna tertentu.
1) Tingkatan Tanda
Roland
Barthes
Denotasi
·
denotasi adalah tingkat
pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara
tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna eksplisit, langsung
dan pasti.
·
makna pada apa yang
tampak. Misalnya foto wajah Barnadi berarti wajah Barnadi yang sesungguhnya.
·
denotasi adalah tanda
yang penandanya mempunyai tingkat konvensi atau kesepakatan yang tinggi.
Konotasi
·
Konotasi adalah tingkat
pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, yang di
dalamnya beroperasi makna yang eksplisit, tidak langsung dan tidak pasti
(artinya terbuka dalam berbagai kemungkinan).
·
Konotasi dapat
menghasilkan makna lapis kedua yang bersifat implisit, tersembunyi.
2) Relasi Antartanda
Selain kombinasi tanda, analisis semiotika juga beruapaya mengungkap interaksi di antara tanda-tanda.
Selain kombinasi tanda, analisis semiotika juga beruapaya mengungkap interaksi di antara tanda-tanda.
Metafora
·
sebuah model interaksi
tanda, yang di dalamnya sebuah tanda dari sebuah sistem yang lainnya. Misalnya
penggunaan metafora ‘kepala batu’ untuk menjelaskan seseorang yang tidak mau
diubah pikirannya.
Metonimi
·
interaksi tanda, yang
di dalamnya sebuah tanda diasosiasikan dengan tanda lain, yang di dalamnya
terdapat hubungan bagian (part) dengan keseluruhan (whole). Misalnya, tanda
botol (bagian) untuk mewakili ‘pemabuk’ (total). Atau, tanda mahkota untuk mewakili
konsep tentang ‘kerajaan’.
Relasi metafora dan metonimi ini banyak digunakan di dalam
puisi sebagai dua majas (figure of speech). Untuk menjelaskan makna-makna
secara tidak langsung.
2.3 Unsur-unsur Puisi dalam Kajian Semiotik
1. Diksi
diksi
dapat diartikan berupa kecermatan pemilihan dan penggunaan kata-kata yang
bertujuan untuk memperoleh efek ucapan atau tulisan yang disampaikan.
2. Makna Denotasi dan Konotasi
·
Makna denotasi adalah
yang merujuk kepada makna sebenarnya (makna kamus)
·
Makna konotasi adalah
arti tambahan yang ditimbulkan asosiasi-asosiasi yang keluardari denotasinya.
3. Citraan
Citraan (imagery) merupakan sesuatu yang dirasakan atau dialami secara imajinatif. Dengan ketepatan pilihan kata dalam sebuah karya sastra (puisi) membantu daya bayang untuk menjelmakan gambaran yang nyata.
Citraan (imagery) merupakan sesuatu yang dirasakan atau dialami secara imajinatif. Dengan ketepatan pilihan kata dalam sebuah karya sastra (puisi) membantu daya bayang untuk menjelmakan gambaran yang nyata.
4. Bahasa Kiasan
Adanya bahasa kias dapat mengefektikan penyampaian maksud. Dengan bahasa kias, imaji tambahan akan semakin mudah ditemukan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan puisi lebih mudah dipahami dan nikmat untuk ditelaah.
Adanya bahasa kias dapat mengefektikan penyampaian maksud. Dengan bahasa kias, imaji tambahan akan semakin mudah ditemukan sehingga yang abstrak menjadi konkret dan puisi lebih mudah dipahami dan nikmat untuk ditelaah.
Pengkajian puisi Hujan Bulan Juni
Hujan Bulan
Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
Analisis
Struktur Lahir Puisi Hujan Bulan Juni
1. Diksi
Diksi yang terdapat pada puisi Hujan Bulan Juni ini menggunakan diksi konotatif, karena didominasi oleh kata-kata yang tidak menggunakan makna sebenarnya. Terdapat dalam kutipan berikut ini.
Diksi yang terdapat pada puisi Hujan Bulan Juni ini menggunakan diksi konotatif, karena didominasi oleh kata-kata yang tidak menggunakan makna sebenarnya. Terdapat dalam kutipan berikut ini.
“tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni” (bait ke-1)
2. Gaya Bahasa
Di dalam
puisi ini diperkuat dengan majas personifikasi. Dapat terlihat pada kata hujan
yang seolah-olah memiliki rasa seperti manusia yaitu rindu, bijak, arif, tabah,
dan perilakunya (dirahasiakannya, dihapusnya, dibiarkan).
3. Bunyi
Rima: Bebas
4. Tipografi
Tipografi
pada puisi ini terdiri dari tiga bait dan tiap bait terdiri dari empat baris. Dalam puisinya sendiri
ditulis dengan menggunakan rata kiri.
Analisis
Struktur Batin Puisi Hujan Bulan Juni
1.
Tema
Penantian
2.
Nada dan
Suasana
Romantik,
menggambarkan suasana harmonis.
3.
Perasaan
Memunculkan
rasa tabah, bijak, dan arif.
4. Amanat/Itikad
Tidak ada
yang tidak mungkin jika kita ingin berusaha. Sesungguhnya kekuatan cinta itu
nyata.
5. Relevansi dengan
kehidupan
Menggambarkan
bahwa dalam mengharapkan sesuatu di hidup ini tidak selalu mudah didapat. Perlu
adanya usaha yang sungguh-sungguh. Jika kita mau berusaha pasti akan ada hasil
yang baik.
Analisis puisi Hujan Bulan Juni dilakukan tiap-tiap kalimat karena tanda-tanda
yang terdapat dalam puisi ini berbentuk kalimat, bisa dibilang bukan merupakan
satu kata saja. Maka analisisnya menurut kalimat-kalimat berikut ini.
1. Hujan Bulan Juni
2. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan
juni
3. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada
pohon berbunga itu
4. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan
juni
5. Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang
ragu-ragu di jalan itu
6. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan
juni
7. Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap
akar pohon bunga itu
Pembacaan heuristik puisi Hujan Bulan
Juni.
1. Hujan bulan juni.
Dari judul
puisi ini sendiri Hujan Bulan Juni
memiliki arti hujan yang terjadi di bulan juni.
2. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan
juni.
Dalam KBBI
kata tabah memiliki arti tetap dan kuat hati. Jadi kalimat ini mengartikan
bahwa hujan di bulan juni memiliki sifat yang tetap dan kuat hati. Tidak ada
yang melebihi ketabahan hujan di bulan juni.
3. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada
pohon berbunga itu.
Dalam KBBI
kata rahasia memiliki arti sesuatu
yg sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Kalimat ini
mengartikan bahwa hujan di bulan juni menyembunyikan rindunya kepada pohon yang
berbunga.
4. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan
juni.
Dalam KBBI
kata bijak adalah selalu menggunakan akal budinya; pandai;
mahir. Dalam kalimat ini mengartikan hujan di bulan juni menggunakan akal
budinya, pandai dan mahir. Tidak ada yang lebih bijak dari hujan di bulan juni.
5. Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang
ragu-ragu di jalan itu.
Dalam KBBI
kata hapus adalah tidak
terdapat atau tidak terlihat lagi; hilang. Kalimat ini berarti, hujan di bulan
juni menghapus atau menghilangkan jejak-jejak kakinya yang ragu ragu.
6. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan
juni.
Dalam KBBI
kata arif adalah bijaksana;
cerdik dan pandai; berilmu. Kalimat ini berarti, hujan bulan juni itu
bijaksana, cerdik, berilmu dan pandai. Dan tak ada yang lebih arif dari hujan
bulan juni.
7. Dibiarkannya tak terucapkan diserap akar
pohon bunga itu.
Kalimat ini
menerangkan bahwa hujan bulan juni membiarkan tak mengucapkan apa-apa air-air
hujannya di serap oleh akar pohon yang berbunga.
Pembacaan hermeneutik puisi Hujan Bulan Juni.
Kita
dapat memaknai puisi Hujan Bulan Juni
ini dengan melihat judul yang dibuat oleh penyairnya, yaitu Hujan Bulan Juni. Seperti yang telah
kita ketahui bahwa bulan juni merupakan musim kemarau yang jarang sekali hujan
datang. Jadi hujan bulan juni dapat disimbolkan sebagai penantian. Dalam puisi
ini menggambarkan seseorang yang tengah menanti seseorang yang ia kasihi. Untuk
memaknai puisi Hujan Bulan Juni
secara kesuluruhan dapat dilihat pembacaan hermeneutik dari setiap baitnya.
Bait pertama
Bait pertama menggambarkan seseorang
yang dengan tabahnya menanti seseorang yang ia cintai. Ia memuji penantianya
tidak ada yang lebih tabah dari penantiannya. Di bait pertama ini juga
menggambarkan bahwa ia menyembunyikan rasa rindunya kepada seseorang yang indah
yang ia cintai. Pohon berbunga itu diartikan sebagai seseorang yang indah yang
dinanti.
Bait kedua
Bait ini menggambarkan penantian
seseorang tersebut sangat bijak dan tak ada yang melebihi kebijakan
penantiannya. Ia pun menghapus segala keraguannya dalam menanti dan mencintai
seseorang tersebut.
Bait ketiga
Bait ketiga menggambarkan pemujian
kembali terhadap penantiannya. Ia mengatakan kembali bahwa tidak ada yang lebih
arif dari panantiannya. Di bait ketiga pula digambarkan bahwa pada akhirnya
penantiannya berbuah hasil manis. Cintanya diterima oleh seseorang yang ia
cintainya dapat dilihat dari kalimat diserap
akar pohon bunga itu. Dan ia membiarkan tidak terucap segala apa yang ia
rasakan selama penantian.
Simpulan
Puisi
Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko
Damono menggambarkan tentang penantian seseorang kepada seseorang yang
dinantinya. Dengan sangat tabah, bijak, dan arif ia menanti. Dengan
merahasiakan segala rindunya, menghapus segala keraguannya dalam menanti.
Akhirnya penantiannya berbuah manis. Ia mendapatkan seseorang yang dinantinya
tersebut. Karena begitu tulusnya perasaan seseorang tersebut ia membiarkan tak
terucapkan segala apa yang ia rasa selama menanti. Puisi ini sangat memberikan
kita pelajaran betapa tidak ada yang tidak mungkin jika kita ingin berusaha.
Sesungguhnya kekuatan cinta itu nyata.
Senin, 10 Oktober 2016
hakikat berbicara
HAKIKAT
BERBICARA
DISUSUN
OLEH :
KELOMPOK 2
DEBI TENRIBALI (1551040027)
FIKA PUTRI INDAH SARI (1551040029)
WIWIN RASMAWATI
(1551040025)
HASRA SELPIANI
RAHAYU (1551040026)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur
kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan dan kesehatan kepada kita
semua khususnya kepada kita sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan
tepat waktu. Tak lupa pula Shalawat beserta salam marilah kita curahkan kepada
junjungan kita yakni Nabi Muhammad Saw yang telah membawa kita dari kehidupan
kelam ke kehidupan terang benderang
seperti sekarang ini.
Kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak, baik pembaca makalah ini serta pihak yang memberikan saran
dan kritikan pada kami tentang makalah ini,terutama dosen pembimbing yang telah
membimbing kami di dalam penyusunan makalah ini.
Semoga dengan
selesainya makalah ini dapat mempermudah pembaca untuk memperoleh penambahan
pengetahuan dan berharap agar pembaca dapat mudah memahami materi yang telah
kami buat yang ada di dalam makalah ini.
Makassar,24
september 2016
penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berbicara merupakan
salah satu kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Dengan berbicara manusia dapat
berkomunikasi dengan manusia lainnya. Berbicara selalu tidak jauh-jauh dengan
bahasa, karena bahasa merupakan unsur penting dalam berkomunikasi dengan
manusia yang lain. Komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di
antaranya komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal
menggunakan bahasa sebagai sarana, sedangkan komunikasi non verbal menggunakan
sarana gerak-gerik seperti warna, gambar, bunyi bel, dan sebagainya. Komunikasi
verbal dianggap paling sempurna, efisien, dan efektif.
Komunikasi lisan sering
terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya dialog dalam lingkungan keluarga,
percakapan antara tetangga, percakapan antara pembeli dan penjual di pasar, dan
sebagainya. Contoh lainnya : percakapan anggota keluarga; percakapan ibu dan
anak; percakapan bertelepon, dan sebagainya.
Interaksi antara
pembicara dan pendengar ada yang langsung dan ada pula yang tidak langsung.
Interaksi langsung dapat bersifat dua arah atau multi arah, sedangkan interaksi
tak langsung bersifat searah. Pembicara berusaha agar pendengar memahami atau
menangkap makna apa yang disampaikannya. Komunikasi lisan dalam setiap contoh berlangsung
dalam waktu, tempat, suasana yang tertentu pula. Sarana untuk menyampaikan
sesuatu itu mempergunakan bahasa lisan.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
apa pengertian dan tujuan dari
berbicara?
2.
bagaimana konsep dasar berbicara?
3.
apa saja jenis-jenis berbicara?
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan
makalah ini adalah:
1.
untuk mengetahui pengertian dan tujuan
dari berbicara.
2.
untuk mengetahui bagaimana konsep dasar
berbicara, dan
3.
untuk mengetahui jenis-jenis berbicara.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
HAKIKAT BERBICARA
2.1.1 Pengertian berbicara
Banyak pakar memberikan batasan tentang berbicara,
di antaranya Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan,
menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sejalan dengan
Tarigan , Anton M. Moeliono dkk.(1988:114) mengatakan bahwa berbicara adalah
berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan. Demikian
juga Djago Tarigan (1998:34) mengatakan bahwa berbicara adalah keterampilan
menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dari tiga pendapat tersebut dapat
dikatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran,
gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.
Berbicara bukan hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi
atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan
gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen
yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang
pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para
penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri
atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan
apakah dia waspada serta antusias atau tidak ( Mulgrave dalam Tarigan 1981:15).
Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara
dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi,
menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui
berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain.
Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara
selalu diikuti kegiatan menyimak atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam
kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi lisan, dua-duanya tak
terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara sedang
sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Sebagaimana mata uang tidak
akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun tak akan
berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Pembicara
yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya
Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan
menulis dan membaca. Bukankah berbicara pada hakikatnya sama dengan menulis,
paling tidak dalam segi ekspresi atau produksi informasi? Hasil berbicara bila
direkam dan disalin kembali sudah merupakan tulisan.dan ini sudah merupakan
wujud keterampilan menulis. Penggunaan bahasa dalam berbicara banyak
kesamaannya dengan penggunaan bahasa dalam teks bacaan. Apalagi organisasi
pembicaraan kurang lebih sama dengan pengorganisasian isi bahan bacaan.\
2.1.2
Tujuan Berbicara
Setiap
kegiatan berbicara yang dilakukan manusia selalu mempunyai maksud dan tujuan.
Menurut Tarigan (1983:15) tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi.
Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka sebaiknya sang pembicara
memahami makna segala sesuatu yang ingin dikombinasikan, dia harus mampu
mengevaluasi efek komunikasi terhadap pendengarnya, dan dia harus mengetahui
prinsip-prinsip yang mendasari segala sesuatu situasi pembicaraan, baik secara
umum maupun perorangan. Menurut Djago, dkk (1997:37) tujuan pembicaraan
biasanya dapat dibedakan atas lima golongan yaitu (1) menghibur, (2)
menginformasikan, (3) menstimulasi, (4) meyakinkan, dan 5) menggerakkan.
Berdasarkan
uraian di `atas maka dapat disimpulkan bahwa seseorang melakukan kegiatan
berbicara selain untuk berkomunikasi juga bertujuan untuk mempengaruh orang
lain dengana maksud apa yang dibicarakan dapat diterima oleh lawan bicaranya
dengan baik. Adanya hubungan timbal balik secara aktif dalam kegiatan
bebricara antara pembicara dengan pendengar akan membentuk kegiatan
berkomunikasi menjadi lebih efektif dan efisien.
2.2 KONSEP DASAR BERBICARA
Kemampuan berbicara
siswa bervariasi, mulai dari taraf baik atau lancar; sedang; gagap atau kurang.
Kenyataan tersebut sebaiknya dijadikan landasan berbicara di sekolah.
Pengajaran berbicara pun harus berlandaskan konsep dasar berbicara sebagai
sarana berkomunikasi.
Konsep dasar berbicara sebagai sarana
berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni:\
1. Berbicara
dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal
Berbicara dan menyimak
adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaiatan erat dan tak terpisahkan,
ibarat mata uang: satu sisi ditempati kegiatan berbicara dan sisi lainnya
ditempati kegiatan menyimak. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi
dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi,
bertelepon, tanya jawab, interview dan sebagainya.
2. Berbicara
adakalanya digunakan sebagai alat berkomunikasi dengan lingkungannya.
Bila hal ini dikaitkan
dengan fungsi bahasa maka berbicara digunakan sebagai sarana memperoleh
pengetahuan mengadaptasi, mempelajari lingkungannya, dan mengontrol
lingkungannya. Fungsi heuristik sering disampaikan dalam bentuk pertanyaan yang
menuntut jawaban.
3. Berbicara
adalah ekspresi yang kreatif
Melalui berbicara
kreatif, manusia melakukan tidak sekedar menyatakan ide, tetapi juga
memanifestasikan kepribadiannya. Tidak hanya dia menggunakan pesona ucapan kata
dan dalam menyatakan apa yang hendak dikatakannya tetapi dia menyatakan secara
murni, fasih, ceria dan spontan. Perkembangan persepsi dan kepekaan terhadap perkembangan
keterampilan berkomunikasi menstimulasi yang bersangkutan untuk mencapai taraf
kreatifitas tertinggi dan ekspresi intelektual. Bergantung pada si pembicaralah
apakah dia mampu menjadikan berbicara (komunikasi lisan) itu menjadi
ekpresi kreatif atau hanya pendekatan belaka. Karena itu dikatakan berbicara
tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tetapi juga alat utama untuk
menciptakan dan memformulasikan ide baru.
4. Berbicara
adalah tingkah laku
Berbicara adalah
ekspresi pembicara. Melalui berbicara, pembicara sebenarnya menyatakan gambaran
dirinya. Berbicara merupakan simbolisasi kepribadian si pembicara. Berbicara
juga merupakan dinamika dalam pengertian melibatkan tujuan pembicara kepada
kejadian disekelilingnya kepada pendengarnya, atau kepada objek tertentu. Dalam
bahasa Indonesia, kita juga menemui pribahasa ” Bahasa menunjukkan bangsa ”.
makna pribahasa tersebut ialah cara kita berbahasa, bebicara, bertingkah laku
menggambarkan kepribadian kita. Dalam kepribadian tersebut telah terselip
tingkah laku kita. Karena itu tepatlah bila dikatakan berbicara adalah tingkah
laku.
5. Berbicara
adalah tingkah laku yang dipelajari
Berbicara sebagai
tingkah laku, sudah dipelajari oleh siswa di lungkungan keluarga, tetangga, dan
lingkungan lainnya di sekitar tempatnya hidup sebelum mereka masuk ke sekolah.
Keterampilan berbicara siswa harus dibina oleh guru melalui latihan :
a.
Pengucapan
b.
Pelafalan
c.
Pengontrolan suara
d.
Pengendalian diri
e.
Pengontrolan gerak-gerik tubuh
f.
Pemilihan kata, kalimat dan pelafalannya
g.
Pemakaian bahasa yang baik
h.
Pengorganisasian ide
Keterampilan berbicara
merupakan keterampilan yang mekanistis. Semakin banyak berlatih berbicara,
semakin dikuasai keterampilan berbicara itu. tidak ada orang yang langsung
terampil berbicara tanpa melalui proses latihan. Berbicara adalah tingkah laku yang
harus dipelajari, baru bisa dikuasai.
6. Berbicara
distimulasi oleh pengalaman
Berbicara adalah
ekspresi diri. Bila diri si pembicara terisi oleh pengetahuan dan pengalaman
yang kaya, maka dengan mudah yang bersangkutan menguraikan pengetahuan dan
pengalaman itu.
7. Berbicara
untuk memperluas
cakrawala
Paling sedikit
berbicara dapat digunakan untuk dua hal. Yang pertama untuk mengekpresikan ide,
perasaan dan imajinasi. Kedua, berbicara dapat juga digunakan untuk menambah
pengetahuan dan memperluas cakrawala pengalaman.
8. Keterampilan
linguistik dan lingkungan
Anak-anak adalah produk
lingkungan. Jika dalam lingkungan hidupnya ia sering diajak berbicara, dan
segala pertanyaannya diperhatikan dan dijawab, serta lingkungan itu sendiri
menyediakan kesempatan untuk belajar dan berlatih berbicara maka dapat
diharapkan anak tersebut terampil berbicara. Ini berarti si anak sudah memliki
kemampuan linguistik yang memadai sebelum mereka memasuki sekolah.
9. Berbicara
adalah pancaran kepribadian
Gamabaran pribadi
seseorang dapat diidentifikasi dengan berbagai cara. Kita dapat menduganya dari
gerak-geriknya, tingkah lakunya, kecenderungannya, kesukaannya, dan cara bicaranya.
berbicara pada hakikatnya melukisnya apa yang ada di hati, misalnya pikiran,
perasaan, keinginan, idenya dan lain-lain. Karena itu sering dikatakan bahwa
berbicara adalah indeks kepribadian.
2.3 JENIS-JENIS BERBICARA
Bila diperhatikan mengenai bahasa
pengajaran akan kita dapatkan berbagai jenis berbicara. Antara lain: diskusi,
percakapan, pidato menjelaskan, pidato menghibur, ceramah. Berdasarkan
pengamatan ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan
berbicara yaitu:
1. Situasi
Aktivitas berbicara terjadi dalam
suasana, situasi, dan lingkungan tertentu. Situasi dan lingkungan itu
dapat bersifat formal atau resmi, mungkin pula bersifat informal atau tak
resmi. Dalam situasi formal pembicara dituntut berbicara secara formal, sebaliknya
dalam situasi tak formal, pembicara harus berbicara tak formal pula. Kegiatan
berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Suksesnya suatu pembicaraan tergantung pada pembicara dan
pendengar. Kegiatan berbicara yang bersifat informal banyak dilakukan dalam
kehidupanmanusia sehari-hari.
Untuk
itu, diperlukan beberapa prasyarat. Jenis kegiatan berbicara informal meliputi
:
a. Tukar
pengalaman,
b. Percakapan,
c. Menyampaikan
berita,
d. Menyampaikan
pengumuman,
e. Bertelepon
dan
f. memberi
petunjuk (Logan, dkk., 1972 :108).
Sedangkan
jenis kegiatan yang bersifat formal meliputi :
a. Perencanaan dan penilain
b. Ceramah
c. Interview
d. Prosedur
parlementer dan Bercerita (Logan, dkk., 1972: 116)
2. Tujuan
Akhir pembicaraan, pembicara menginginkan
respons dari pendengar. Pada umumnya tujuan orang berbicara adalah untuk
menghibur, menginformasikan, menstimulasikan dan meyakinkan atau
menggerakan pendengarnya. Sejalan dengan tujuan berbicara tersebut di atas
dapat kita klasifikasi berbicara menjadi 5 jenis, yaitu antara lain:
a. Berbicara
menghibur
Biasanya
suasana santai, rileks dan kocak. Tidak berarti bahwa berbicara menghibur tidak
dapat membawakan pesan dalam berbicara menghibur tersebut pembicara berusaha
membuat pendengarnya senang gembira dan bersukaria.
Contoh:
Jenis
berbicara ini, antara lain lawakan, guyonan dalam ludruk, srimulat, cerita
kabayan, cerita Abu Nawas dan lain-lain.
b. Berbicara
menginformasikan.
Dalam
suasana serius, tertib dan hening. Berbicara menginformasikan pembicara
berusaha berbicara jelas, sistematis dan tepat isi agar informasi benar-benar
terjaga keakuratannya.
Contoh:
1) Penjelasan
menteri Sekneg sehabis sidang cabinet
2) Penjelasan
menteri penerangan mengenai sesuatu kejadian, peraturan pemerintah, dan
sebagainya.
3) Penjelasan
PPL di depan kelompok tani, dan
4) Penjelasan
instruktur pada siswanya.
c. Berbicara
menstimulasi
Berbicara
menstimulasi juga berusaha serius, kadang-kadang terasa kaku, pembicara
berkedudukan lebih tinggi dari pendengarnya dapat disebabkan oleh wibawa,
pengetahuan, pengalaman, jabatan atau fungsinya yang memang melebihi
pendengarnya. Berbicara menstimulasi, pembicara berusaha membangkitkan semangat
pendengarnya sehingga pendengar itu bekerja lebih tekun, berbuat lebih baik,
bertingkah lebih sopan, belajar lebih berkesenambungan. Pembicara biasa
dilandasi oleh rasa kasih sayang, kebutuhan kemauan, harapan, dan inspirasi
pendengar.
Contoh:
1) Nasehat
guru terhadap siswa yang malas, melalaikan tugasnya
2) Pepatah
petitih, pengajaran ayah kepada anaknya yang kurang senonoh
3) Nasehat
dokter pada pasiennya
4) Nasehat
atasan pada karyawan yang malas dan
5) Nasehat
ibu pada putrinya yang patah hati
d.
Berbicara meyakinkan
Sesuai
dengan namanya, bertujuan meyakinkan pendengarnya, suasananya pun bersifat
serius, mencekam dan menegangkan. Pembicara berusaha mengubah sikap
pendengarnya dari tidak setuju menjadi setuju, dari tidak simpati menjadi
simpati dari tidak mau membantu menjadi mau membantu. Pembicara harus
melandaskan pembicaraannya kepada argumentasi dan nalar, logis masuk akal, dan
dapat bertanggungjawabkan dari segala segi.
Contoh:
1) Pidato
petugas KBN didepan masyarakat yang anti keluarga berencana
2) Pidato
petugas Depsos pada masyarakat daerah kritis tetapi segan bertransmigrasi,
3) Pidato
pimpinan partai tertentu di daerah yang kurang menyenangi partai tersebut,
4) Pidato
calon kepala desa di daerah yang belum simpati padanya
5) Pidato
pimpinan BRI pada masyarakat yang lebih senang berhubungan dengan sengkulak.
e. Berbicara
menggerakkan
Juga
menuntut keseriusan baik dari segi pembicara maupun dari segi pendengarnya. Pembicara
dalam berbicara mendengarkan haruslah berwibawa, tokoh, idola, panutan
masyarakat. Misal: Bung Tomo dapat membakar semangat juang para
pemuda pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
3. Metode
penyampain
Empat (4) cara yang biasa digunakan
orang dalam menyampaikan pembicaraannya, antara lain yaitu:
a. Penyampaian
secara mendadak, terjadi karena seseorang tanpa direncanakan sebelumnya
harus berbicara di depan umum. Hal ini dapat tertjadi karena tuntutan situasi.
Misal: Karena pembicara
yang telah direncanakan berhalangan hadir tampil, maka terpaksa secara mendadak
dicarikan penggantinya atau dalam suatu pertemuan seseorang diminta secara
mendadak memberikan kata sambutan, pidato perpisahan, dan sebagainya.
b. Penyampaian
berdasarkan cacatan kecil, biasanya berupa butir-butir penting sebagai pedoman
berbicara. Berbasarkan catatan itu pembicara bercerita panjang lebar mengenai
sesuatu hal. Hal ini dapat berhasil apabila pembicara sudah mempersiapkan dan menguasai
isi pembicaraan secara mendalam sebelum tampil di depan umum.
c. Penyampaian
berdasarkan hafalan, berbicara berdasarkan hafalan memang banyak ke lemahannya,
pembicara mungkin lupa akan beberapa bagian dari isi pidatonya,
perhatiannya tidak bisa diberikan kepada pendengar, kaku dan kurang penyesuaian
pada situasi yang ada.
d. Penyampain
berdasarkan naskah. Berbicara yang berlandalandaskan naskah di laksanakan dalam
situasi yang menuntut kepastian, bersifat resmi dan menyangkut kepentingan
umum.
4. Jumlah penyimak
Komunikasi lisan melibatkan dua pihak,
yaitu pendengar dan pembicara. Jumlah peserta yang berfungsi sebagai penyimak
dalam komunikasi lisan dapat bervariasi misalnya satu orang, babarapa
orang (kelompok kecil) dan banyak orang (kelompok besar).
Berdasarkan
jumlah penyimak itu, berbicara dapat di bagi atas tiga (3) jenis, yaitu:
a. Berbicara
antarpribadi, atau bicara empat mata, terjadi apabila dua pribadi membicarakan,
mempercakapkan, merundingkan, atau mendiskusikan.
b. Berbicara
dalam kelompok kecil, terjadi apabila seseorang pembicara menghadapi sekelompok
kecil pendengar, misanya 3-5 orang.
c. Berbicara
dalam kelompok besar. Terjadi apabila seorang pembicara menghadapi pendengar
berjumlah besar atau massa.
5. Peristiwa
khusus
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
sering menghadapi berbagai kegiatan. Sebagian dari kegiatan itu dikategorikan
sebagai peristiwa khusus, istimewahatau spesifik. Contoh kegiatan khusus itu
adalah ulang tahun, perpisahan, perkenalan dan lain-lain.
Berdasarkan
peristiwa khusus itu berbicara atau berpidato dapat bigolongkan atas enam
jenis.
a. Pidato
presentasi, ialah pidato yang dilakukan alam suasana pembagian hadiah
b. Pidato
penyambutan atau penyambutan berisi ucapan selamat datang pada tamu.
c. Pidato
perpisahan, berisi kata-kata perpisahan
d. Pidato
perkenalan, berisi penjelasan pihak yang memperkenalkan tentang nama, jabatan,
pendidikan, pengalaman kerja, keahlian yang diperkenalka kepada tuan rumah.
e. Pidato
nominasi (mengunggulkan) berisi pujian, alasan, mengapa sesuatu itu
diunggulkan. (Logan, dkk;1972: 127)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan
pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. Berbicara bukan hanya sekadar
pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk
mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Ada beberapa konsep dasar
berbicara sebagai sarana berkomunikasi mencakup sembilan hal, yakni:
1. Berbicara
dan menyimak adalah dua kegiatan resiprokal
2. Berbicara
adalah proses individu berkomunikasi
3.
Berbicara adalah ekspresi yang kreatif
4.
Berbicara adalah tingkah laku
5.
Berbicara adalah tingkah laku yang dipelajari
6.
Berbicara distimulasi oleh pengalaman
7.
Berbicara untuk memperluas
cakrawala
8.
Keterampilan linguistik dan lingkungan
9.
Berbicara adalah pancaran kepribadian
Berdasarkan
pengamatan ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasikan kegiatan
berbicara yaitu: Situasi, tujuan, metode penyampain, jumlah penyimak
dan peristiwa khusus.
3.2
Saran
Diharapkan
agar selain membaca makalah ini anda dapat juga membaca rujukan lain
mengenai berbicara agar dapat menambah
ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSAKA
Tarigan,
Jago dkk.1998.”Pengembangan keterampilan berbicara”.Jakarta.Depdikbud
Tarign, Henry Guntur.2008.”Berbicara
sebagai suatu keterampilan berbahasa”.Bandung.Angkasa
Widi,colin.”Dasar-dasar berbicara”. 19
september 2016 http://colinawati.blog.uns.ac.id/2010/05/10/9/
Setyawati,Nani. “Makalah konsep
berbicara dan jenis-jenis berbicara” 20 januari2016 http://setyawati-nani.blogspot.co.id/2014/06/makalah-konsep-berbicara-dan-jenis.html
Sukarto.”Berbicara dan pembelajarannya”
20 september 2016. http://suksesbersamasukarto.blogspot.co.id/2010/02/berbacara-dan-pembelajarannya.html?m=1
Truestoryeka.”Makalah keterampilan
berbicara. 20 september 2016. https://truestoryeka.wordpress.com/2012/01/28/makalah-keterampilan-berbicara/
Langganan:
Postingan (Atom)